RSS

KISAH LIMA PERKARA ANEH

01 Mar

Abu Laits as- Samarqandi adalah seorang ahli fiqih yang mansyur. Suatu ketika dia pernah berkata, “Ayahku menceritakan bahwa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.”

Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, “Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama : apa yang engkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua : engkau sembunyikan, ketiga : engkau terimalah, keempat : jangan engkau putuskan harapan, yang kelima : larilah engkau daripadanya.”

Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya adalah sebuag bukit besar berwana hitam. Nabi berkata “Aku diperintahkan memakan yang aku hadapi, tetapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan.”

Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika ia menghampirinya, tiba—tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke bulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucap syukur “Alhamdulillah.”

Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk yang terbuat dari emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas Nabi itu pun menggali sebiuah lubang lalu ditanaminya mangkuk emas itu, lalu ditinggalinya. Tiba—tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu pun menanamkannya semula hingga tiga kali berturut—turut.

Maka berkata Nabi itu, “Aku telah melaksanakan perintahmu.” Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disadari oleh Nabi itu yang mangkuk emas itu terkeluar semula dari tempat ia tertanam.

Ketika dia sedang berjalan, tiba—tiba dia ternampak seekor burung elang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, “Wahai Nabi Allah, tolonglah aku.”

Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung kecil itu dan dimasukan ke dalam bajunya. Melihat keadaan itu, lantas burung elang itu pun datang menghampiri Nabi itu sambil berkata, “Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku.”

Nabi itu teringatkan pesan arahan dalam mimpinya yang keempat, yaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pahanyadan diberikan kepada elang itu. Setelah mendapat daging itu, elang pun terbang dan burung kecil tadi dilepas dari dalam bajunya.

Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjalanannya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari situ karena tidak tahan menghidu bau yang menyakitkan hidungnya. Setelah menemui kelima – lima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi ke rumahnya. Pada malam itu, Nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, “Ya Allah, aku telahpun melaksanakan perintah—Mu sebagaimana yang diberi tahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku arti semua ini.”

Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah S.W.T bahwa, “ Yang pertama engkau makan itu ialam marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukit tetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis dari pada madu. Kedua : semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak juga. Ketiga: jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianati kepadanya. Keempat : jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat. Kelima : bau yang busuk itu adalah ghibah (menceritakan hal seseorang). Maka larilah dari orang—orang yang membuat ghibah.”

Saudara—saudaraku, kelima—lima ini hendaknya kita semaikan dalam diri kita, sebab kelima—lima perkara ini senantiasa saja berlaku dalam kehidupan kita sehari—hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah menceritakan hal orang—orang , memang menjadi tabiat seseorang itu suka mengatakan hal orang lain. Harus kita ingat bahwa kata—mengata hal seseorang itu akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu ia bertanya, “Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang Kau berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dahulu.”

Maka berkata Allah S.W.T, “Ini adalah pahala orang yang mengata—ngata tentang dirimu.” Dengan ini harus kita sadari bahwa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tetapi kata—mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh karena itu, hendaklah kita jangan mengata hal orang walaupun ia benar.

Blogged with the Flock Browser
 
Leave a comment

Posted by on March 1, 2010 in Islamic

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: